Inez's Diary · travel

Medan : Kuliner kaya rasa

Trip to Medan kali ini di sponsori oleh kerjaan hehehe. Its a working trip actually but i get to taste a few highlight of Medan culinary magic. Saya berada di sana selama 4 hari, di awal September 2016 lalu. Review saya kali ini ya memang according to my taste yaah, i’m not a culinary expert or something. Saya juga baru pertama kali datang ke Medan dan karena ini urusan kerjaan, plus ada temen yang pernah tinggal di sana jadi ya sama sekali nggak ada ekspektasi apa-apa. Saya mempercayakan semuanya sama si teman ini hehehe.

Hari pertama. Landing di Kualanamu sekitar jam 12.30. Perut sudah lapar menggila. Seorang temen yang pernah jadi native Medan segera mengarahkan pak driver untuk makan Mie Sop. Meluncurlah kami. Damn, ternyata macet parah. You know that saying, “Laper bawel – Kenyang Bego?” yah begitulah ceritanya. Berusaha menghabiskan waktu dan melupakan lapar dengan becanda, sampai akhirnya tak tahan lagi. Destinasi makan pun berganti ke lokasi yang lebih dekat. Dan sampailah kami di RM. Sinar Pagi. Baru tahu saat itu juga kalo tempat ini Legendary. Hmm… how does it taste?

RM. Sinar Pagi

Soto Ayam Sinar Pagi

I must said that this is the best i’ve tasted. Soto yang sangat kaya rasa. Kuahnya kental, punya rasa yang kuat dan berempah. This is the best kind of Soto. Soto betawi, soto lamongan, soto bandung…liwat semua rasanya dengan soto medan hahaha. Satu porsi harganya 30++. Rasanya nggak cukup makan satu porsi. Iya, temen-temen yang lain sih pada nambah hahaha. Di tambah dengan sambel yang gurih pedes dan peyek udang yang krauk-krauk, beeuuhh juara banget. Meski dalam kondisi tempat yang lagi beres-beres karena sudah sold out, makan berasa diburu-buru, well…justru malah menambah nikmatnya. I mean, in a rush-nya ituloh. Adrenalin berpacu seiring mulut kepedesan dan keringetan. Jadi, ini soto juara banget pokoknya.

Mie Titi Bobrok

Mie Aceh Udang Basah

Makan malam hari pertama dipersembahkan oleh Mie Aceh Titi Bobrok. Titi dalam bahasa lokal berarti Jembatan, ya mungkin sejarahnya dulu tempat ini berada di atas jembatan yang bobrok kali yah. Sebenarnya agak kurang selera untuk makan, its way past my dinner time. Iya, i have a certain diet because of my high blood sugar. But hey, its not everyday i’m going to have a food craze hahaha. My favorite seafood is udang. Jadi pilihan jatuh ke Mie Aceh Udang. Kenapa pilih yang basah, karena baru aja menembus hujan untuk sampai ke Titi Bobrok. Pengen yang sedikit berkuah tapi nggak yang bikin terlalu kenyang.

Rasanya? Authentic. Harganya 30ribuan juga, nggak sampe malah. Saya compare dengan Mie Aceh favorit saya di Bandung, di Waroeng Atjeh yang lokasinya berseberangan dengan Lapangan Saparua. Rasanya mirip-mirip. Kaya rempah dan nendang banget bumbunya. Pedesnya juga pas. Topping udangnya juga melimpah, nggak yang malu-malu sembunyi di tumpukan mi. Porsinya, tentu saja Jumbo. Saya nyerah makan dan masih bersisa sepertiganya. Bukan karena kekenyangan, tapi inget kesehatan heuheu. I don’t take pills to lower my blood sugar, i just go on a diet. Sebelum pulang ke hotel, kami mampir dulu ke kampung keling untuk beli martabak asin.

Wajir Seafood

Kepiting, cumi, udang, cah kangkung

Hari kedua di Medan terbilang santai, sehingga kami menghajar diri dengan menaikkan kadar kolesterol. Pilihan makan malam jatuh ke Wajir. Kami beruntung karena saat sampai ke sana, belum ada antrian pengunjung. Pas banget dateng, satu rombongan meninggalkan Wajir. The first table available langsung kami tempati. Kami datang sekitar jam 7 – 7.30 lah. Nggak banyak mikir, langsung pesen cumi telor asin, udang, kepiting dan cah kangkung. Menu untuk ber-6 ini lenyap tanpa butuh waktu lama. Sengaja nggak pesen berlebihan karena mau makan Durian.

Durian Ucok

Si manis dan legit

Durian Ucok yang begitu hits dan tersohor. Sebenarnya kami sudah menuju Durian Pelawi, tapi atas rekomendasi orang lokal, kalo saat itu lebih baik ke Ucok. Well, karena belom pernah makan durian seumur-umur, saya mah ikut ajalah mau ke mana juga. So, teman saya yang native akhirnya memutuskan ke Ucok just because ‘yaudahlah’. Begitu buka pintu mobil, aroma khas buat berduri ini langsung menyekap pernapasan. Nggak butuh waktu lama, durianpun tersaji. That raw sensation of digging your hand into to soft, mushy fruit is just raaawwrrr. Here we go, my first taste of Durian.

So, Durian is a very strong fruit. Sama dengan makanan di Medan yang kaya bumbu dan rempah, Durian juga buat saya punya taste yang sama. Manis, pekat, legit. I needed a moment before i take another bite. Bukan nggak enak, its not like the taste is bad. I just need my palette to get used to it. Buat saya, makan duren itu kaya makan ikan asin. You take a little bite at a time and enjoy it because of the strong taste.

Harganya? Suka-suka abangnya aja. This is serious. Kita beneran nggak tahu dan nggak ada daftar harga. Pokoknya, pesen, makan trus minta bill. Kami menghabiskan 4 kepala dan membayar 120rb. Paket oleh-oleh juga tersedia, buah durian pleus bijinya (bukan dagingnya aja) mulai harga 100rb-500rb.

Nelayan Jala-Jala Cambridge

Aneka dimsum dan Chicken Dumpling Soup

Work has been crazy that day and we really need to celebrate the end of it. Yep, besok udah harus pulang hiks. Hari itu nggak bisa jalan ke banyak tempat because of heavy rain and work. So, kami memutuskan untuk nge-mall aja. Cambridge nama-nya. A friend suggest a place, Nelayan Jala-Jala because we craved for dumpling/dimsum. Well yes, its the best. Karena hujan lagi, jadi saya nyari yang berkuah dan anget makanya pesen chicken dumpling soup. Sengaja juga nggak pesen makan berat karena akan menggila makan dumpling. Apapunlah yang dipesen, dumplingnya nggak ada yang mengecewakan. trust me on that. Selain dumpling, saya juga icip-icip ramen serta baked rice-nya.

Dumpling soup-nya enak. Kuahnya seger banget, garlic-y but a bit bland for my taste. Baby pok coy juga di kematangan yang pas, masih krunchy pas di gigit. Dumplingnya sendiri gurih banget dan too salty. Mungkin itulah alasan kuahnya agak bland karena dumplingnya yang rasanya kuat banget. Kulit dumplingnya tipis, isinya juga banyak. Porsinya? Gede banget. Dipikir bakalan pake mangkuk kecil gitu, ternyata sebesar mangkuk ramen. Sup yang niatnya buat jadi appetizer ternyata jd main course hahaha. No, nggak nyesel kok karena enak.

Baked ricenya surprisingly very asian in taste. Kirain bakal creamy ala-ala italian food ternyata nggak. Rasa dasar nasinya tetep asian, a chinese seasoning. Gurih-asin. Kejunya mozzarela-nya juga melimpah. Karena saya suka keju, jadi ya…everything with cheese is great except drinks. Porsinya juga besar. Lalu Ramen. Porsinya besar. Umm…mungkin lebih tepatnya bakmi kali ya, it tasted more like bakmi than Ramen terutama mi-nya. Kuahnya seger, ringan di mulut tapi nggak bland kaya chicken dumpling soup-nya. Hanya itu sih yang saya cicipi.

Lontong Medan Kak Lin

Lontong dan Sate Kerang yang berjodoh

Hari ini harus bertolak ke Bandung dengan flight jam 12 siang. Menyempatkan untuk sarapan di sela-sela hectic beli oleh-oleh. Jadilah kami menembus macet anak sekolah karena memang lokasi tempat sarapan ini di depan sekolahan, SMA 1 Medan. Yep, lontong Kak Lin.

How do i say this… lontong ini beda taste dari lontong-lontong lainnya. Dia pake bihun (or mi putih), ada lontongnya, kerupuk, telor balado, dan keripik kentang. Kuahnya tentu saja, kaya rempah tapi ringan di mulut. Ya, bumbunya soft, nggak yang nendang dan bikin eneg. Pedes, gurih. Kira-kira begitu. Nah, rasanya makin jos ketika di setiap suapannya kamu tambahin sate kerang. OH MAY GAD!! Jodoh bangetlah si lontong ini pake sate kerang. Sate kerangnya punya bumbu yang kuat, gurih banget, very tasty. Kuatnya rasa sate berpadu dengan soft-nya kuah lontong itu, heavenly. Pokoknya kalau makan ini, mereka jangan di pisahin yaa…jahat banget kalo sampe di pisah hehehe.

Oleh-Oleh

Oleh-oleh khas medan tentu nggak lepas dari Bolu Meranti, Bika Ambon Zulaikha, Pancake Duren, Manisan Jambu dan Risol Gogo. Tapi buat saya, semua kelibas dengan kopi di Otten Coffee. Spent so much on that coffee, yes, i love coffee and my brother own a coffee shop. Lokasi Otten cuma beberapa meter aja dari Bolu Meranti. Dari toko bolu juga udah keliatan. Di sana ngeborong kopi biji kopi. Linthong, Minang Solok, Flores (honey process) dan satu yang impor, Tanzania. 4 jenis kopi untuk 400rb. Antara sedih karena abis banyak tapi juga seneng karena dapet biji kopi hehehe.Yep, kopi bisa jadi alternatif oleh-oleh di Medan. Temen saya yang native sampe bilang, “Gue demen kalo kalian nitipnya kopi, ringan. Oleh-oleh medan lain itu makan bagasi, malesin bawanya.”

Well Medan. Its been a pleasure visiting you. Great food.

 

2 thoughts on “Medan : Kuliner kaya rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s