Inez's Diary · travel

Bromo : the last 16 of 72 hour trip.

Melanjutkan cerita trip 72 jam sebelumnya…

Sepulang dari Museum Angkut sekitar jam 5 lebih perut kami keroncongan. kami kelaparan, terlebih udara Batu yang mulai dingin. Minimnya riset karena trip dadakan, jadinya bingung mau makan di mana. Kamipun menyusul Kipas ke tempat kerjanya, sebuah resto makanan korea yang sangat nge-hits karena sebagian keuntungannya yg mereka donasikan. Singkatnya, ternyata cafe sederhana tersebut sudah sold out dan jam 6 sore seluruh karyawan sudah bubar. Hiks..hiks..

Perut sudah meronta tak karuan. Kipas menawarkan beberapa opsi, salah satunya burger buto. Kami hanya menjawab, “bebas makan apa, yg  penting bikin kenyang dan murah.” Lalu di ajaknyalah kami ini ke salah satu cafe bernama “Baeqopa”. And off we go there. Tempatnya ruko 2 lantai bergaya sederhana, minimalis dan kekinian tapi nggak hipster.  Tipe makanannya sama dengan Clemmons kalo di bandung. Ikan/ayam tepung goreng dengan berbagai saus (keju/mayo/pedas) pleus toping keju yang agak nyolot dan tentu saja french fries juga salad seadanya. Porsinya? Jangan tanya deh, diliat sama mata sih nggak jumbo tp setelah masuk perut super kenyang. Untuk rasa ya standar aja, makanan begitu kan bukan makanan tasty kaya bumbu. Intinya  tetep berasa asin dan gurih. Kenikmatan kenyang ini ditambah dengan harga yang murah. Untuk foto berikut, cm 30k++. Makan ber-3 cm 100ribuan, A.M.A.K.J.I.N.G. And FYI itu lemon tea-nya 1 Pitcher loh.

Pulang makan, mandi lalu boboan sejenak sebelum bersiap menuju meeting point ke bromo. Kami ikutan open trip untuk ke Bromo dengan meeting point di alun-alun Kota Malang. Kurang lebih jam 10 malam, kami merapat ke alun-alun. Sembari menunggu peserta yg lain, ya foto-foto sajalah ya…

Sekitar jam 11 kami diantar guide menggunakan carteran angkutan umum menuju tempat Hartop yg akan jd kendaraan kami ke Bromo. Lokasinya agak di pinggiran kota Malang, dekat dengan bandara. Sekitar jam 1 dini hari, kami beserta rombongan 5 hartop lain bertolak ke bromo. 

Oia, disebelah saya ini adalah Dika (kurang lebih nama sebenarnya). Dika ini temennya Kipas. Jadi, kami berempat pergi bareng ke Bromo. Selain kami, ada 3 orang wanita yg lain. Seorang ibu paruh baya dan dua anaknya yang seumuran kami. Perjalananpun di mulai, kamipun tertidur. Dalam perjalanan, kami beberapa kali berhenti untuk menunggu beberapa anggota rombongan yang tertinggal. Kamipun beristirahat di sebuah pasar, lupa apa namanya. Di antar salah satu guide, saya dan beberapa anggota rombongan yang kebelet pipis diantar ke rumah warga. Hmm…udara sudah mulai dingin  temen-temen yang lain sudah mulai pake jaket. Saya masih menahan diri, karena di bromo sana pasti lebih dingin. Kira-kira pukul 2 atau 2.30, kami melanjutkan perjalanan.

Selama jalanan mulus, kami semua terlelap di dalam mobil hingga jalanan membuat kami layaknya es dalam shaker bartender. Saya mencoba melihat pemandangan di luar, mengira-ngira tempat apakah yang telah mengganggu tidur. Nihil, gelap pekat. Hanya yerlihat jejeran pepohonan besar dan tinggi lalu…kabut. Damn…teringat trip ke Lovina di Bali. Sayapun kembali merem. Entah berapa lama, entah tertidur atau tidak, rasanya beberapa lama kemudian kami berhenti lagi. Saat membuka mata, di depan sana telah berjejer mobil hartop..PARKIR. Entah ada berapa puluh atau mungkin ratusan yang parkir hingga ke puncak pengamatan sunrise.

Sebut saja dia Blonde Guide, saya lupa namanya tp leader guide ini rambutnya di cat pirang. Blonde Guide ini memerintahkan kami untuk turun dari mobil dan bersiap untuk jalan menuju tempat pengamatan sunrise. Tempat ini diberi istilah penanjakan. Baru 5 menit turun dari mobil, badan sudah menggigil dan napaspun sesak krn oksigen yg menipis di ketinggian. Sweater turtle neck supertebal pun segera saya kenakan, begitu juga masker. Masker ini wajib banget. Kegunaannya bukan hanya menahan udara dingin tapi juga debu yang dengan sadis betebaran sepanjang perjalanan ke penanjakan. Sarung tangan, ini juga sangat membantu. Meski pada akhirnya terpaksa nggak saya pake krn fitur glove touch hp saya eror. Jadi untuk mengabadikan foto sunrise dan bikin timelapse harus mencet pake jari…seriously, itulah momen dimana saya berasa kena frozebite, jari sampe kakuuu banget digerakin setelah harus still selama beberapa menit hahaha

Kira-kira jam 4 pagi tiba di Bromo. Penanjakan 1 yang ada di puncak ternyata sudah penuh, kamipun di arahkan ke penanjakan 2 yg relatif masih sepi. Saat itu di lokasi hanya ada beberapa Bule yang sudah nangkring. Saya dan Kipas langsung cari posisi enak, paling depan dan yang masih kosong. Modal “excuse me, sir.” dan tinggi badan seadanya, para turis mancanegara itu memberi kami space di depan mereka. Makasih banyak ya Mister.

Here comes the Drama…

Menunggu sunrise itu menyiksa, apalagi di bromo. You can’t stand still because the chilly air will froze you. At some point i was afraid i’m getting a hypothermia, i know its just me being crazy but its very very cold. Sebagai native Bandung yang terbiasa dengan udara dingin, dinginnya bromo super banget. Mungkin juga karena lagi musim panas ya. Di tengah kedinginan ternyata emosi membara nggak cukup bikin hangat ya…

Kami berempat terpisah. Saya dan Kipas berburu foto ke ujung tebing yang sudah di pagari. Sementara Dika dan Thiya berada di tengah kerumunan di belakang saya, diantara para bule-bule yang saat itu belum terlihat kece. Saya dan Kipas menikmati bekal teh hangat yang di bawa Kipas dari rumah. Tangan yang kesiram air panas itu tak bertahan lama merasakan hangat karena broh…dingin banget. Suhu di sana nampaknya nggak lebih dari 16 celcius deh.

Ketika sedang menikmati teh sembari nge-set dslr terdengar suasana yang grasak-grusuk di belakang saya. Seseorang yang nampak seperti lelaki tapi kelakukannya super bitchy ini merapat di belakang saya tapi masih terhalang seorang bule. Dia kemudian menggeser-geser tripod dan kameranya. Ehem…nggak disarankan banget deh bawa tripod, makan tempat soalnya kasian pengunjung yang lain, mending pake monopod aja. Kecuali situ datang awal banget dan sudah standby di barisan terdepat. Yes, that is the problem. Manusia yang sampai saat ini saya juga bingung dia lelaki atau perempuan causing ruckus. Dia ‘memaksa’ nyelip-nyelip di tengah kerumunan dengan membawa tripodnya yang nyangkut-nyangkut karena rame banget. Saya nggak yakin bule di belakang ini ngomong apa, they speak in somekind of swedish/german. Tapi dari raut dan nadanya, they’re very annoyed by this person. Berbasa-basi busuk sayapun nanya apakah posisi saya yang tepat di depannya mengganggu dia, untungnya dia jawab nggak.

Alam sudah mulai terang, semburat ungu-oranye perlahan menyingkirkan abu-hitam di cakrawala. Hampir semua sudah standby dengan kamera masing-masing. And there it goes, dalam waktu tiga menit bulatan mataharipun terbit. I hear gasp all around. Mata nggak fokus lagi ke kamera. Eyes get the picture of all. While almost everyone clicking their camera, i stand froze once again. Bukan karena dingin tapi karena indahnya semesta. Bule yang di belakang saya mengabadikan momen itu. Kameranya tepat berada di atas kepala saya. I looked at him and tell him that its all right and i’m not bothered then he said thanks. Seiring dengan naiknya matahari, kabut yang menutupi bromopun tersingkap. Di tengah kenikmatan menatap pesona matahari that person we talk about once again making a ruckus. Dia sudah mendorong-dorong tuh, mencoba mengambil posisi saya sambil berkata, “Aduh susahnya, geser dong.” tanpa liat mata saya dan sibuk geser-geser tripodnya yang masih nyangkut-nyangkut di kaki orang.  Yet, nobody cares. Nggak ada “excuse me dan permisi”nya sih.Maybe that person is on a deadline or something, but hey…everybody want to have a nice picture too so…mind your attitude.

Setelah matahari sudah naik dan langit menjadi terang, perlahan kerumunanpun menyepi. Mister Blonde Guy si guide sudah meminta kami berkumpul untuk pergi ke destinasi selanjutnya. Bukit teletubbies dan pasir berbisik dan puncak bromo. Saat kami baru saja menaiki kendaraan, seorang guide menghampiri bersama dua turis asing di belakangnya. “Nganu, tolong. Saya ndak ngerti si mister ngomong apa, cepet banget soale. Kalo ndak salah denger ki lupa di mana rombongannya.” Dika dan Kipas yang belum masuk kendaraan mencoba berkomunikasi, sayapun diminta untuk turun membantu. This blue eyed dutch boy is lost. Sepertinya ditinggal rombongan atau mereka salah belok saat turun dari penanjakan. Apa daya, kami juga punya destinasi yang harus di tuju. Kami hanya bisa membantu mereka menghubungi hotel karena merekapun lupa nama travel agent yang membawa mereka kemari. Maunya sih diem ikut nunggu…Dika has his number tho hahaha.

The rest of the story is speak for it self from the picture…

We’re having such a great time. Nice fellow tourist. Good service from the agent. It was a very nice experience, a moment full of life hehehe.
oia, untuk info agent-nya cek aja link berikut : Backpacking Borneo kami dapet paket overnight bromo termurah seharga 300rb aja on the weekend. Meski judulnya backpacking borneo, jangan khawatir dengan service mereka. Hasil ngobrol dengan mas Blonde Guy, mereka juga suka mengadakan tour ke Ijen cuma by order aja nggak kaya PAKET OVERNIGHT BROMO yang sekarang sudah tiap hari berangkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s