Inez's Diary · travel

A 72 hour trip : Bandung – Malang – Bromo

Berawal dari ajakan random seorang teman, sebut saja Thiya (kurang lebih nama sebenarnya) di bulan agustus 2015 lalu sayapun bertemu Bromo. Setelah melalui fase labil antara ikut dan nggak terkait cuti kantor, akhirnya tetep pergi tanpa cuti.
Berangkat hari jumat 28 Agustus 2015 sekitar jam 5 sore-an (yes, saya dengan tak tahu malu ijin pulang cepet dari kantor demi trip kali ini) dan 16 jam pertama perjalanan menuju Malang dimulai.

image

We talked almost about everything, me and Thiya. Well, mostly boys sih hahaha. Menikmati bekal makan malam di atas kereta yang full capacity, ditengah dengkuran tetangga sebelah dan AC cepoi-cepoi khas kereta ekonomi.

Rasanya nggak seru kalo nge-trip lalu nggak nemu drama. Drama pertama dimulai ketika segerombolan penumpang naik kemudian menginvasi seat di seberang saya dan Thiya. Sebut saja Om Jon, yg sudah duduk disitu sejak keberangkatan bersama kami yg terusik oleh kehadiran gerombolan penumpang berlogak khas ‘ngapak’. Dengan sopan si pendatang mengingatkan kalo Om Jon salah seat, bahwa seharusnya itu seat mereka. Si Om nyolot mempertahankan seatnya. Kemudian salah satu penumpang pendatang meminta pada Om Jon untuk menunjukan tiketnya. Singkat cerita Om Jon memeriksa seat gerbong sebelah sesuai yang tertera di tiketnya. Dengan wajah cemberut, Om Jon kembali ke tempat duduknya dan membereskan tasnya sebelum akhirnya angkat kaki dr seat yang ia duduki sejak awal. Tanpa basa-basi, melengos begitu saja. Talking about attitude here…ckckck and it happens to me on the way home, thats another story hehehe

image

Sekitar pukul 9 pagi sudah sampai di stasiun malang. Saat menuju pintu keluar, ternyata bukan hanya kami yg bergaya backpacker. Ada mbak-mbak yg hits banget gayanya macam host petualangan di tivi, lengkap dengan carrier menjulang dan sepatu boots atau backpacker seadanya seperti kami yg modal sneakers dan backpack doang haha. Setengah jam lebih di stasiun menunggu kedatangan guide dan rentalan motor. Sebut saja Kipas, nama guide kami yang juga berbaik hati untuk ditumpangi naro barang di rumahnya. Yes, nggak ada cerita bobo nikmat di kasur.

First destination di Malang adalah tempat makan, dibawa keliling2 entah kemana untuk sepincuk nasi pecel. Still, i don’t know the place. Kira2 deket perumahan mewah sekitaran kampus brawijaya. Well, kirain bakal murah meriah muntah layaknya makanan pinggir jalan Jogja ternyata a bit pricey, 25++ untuk seporsi nasi pecel, es jeruk dan sebutir telor asin. Berharap dibawah 20rb ternyata lebih hahahaha, tp gpp rasanya nggak mengecewakan, ENAK!! Worth the price. Dikarenakan jarak posting yang kelamaan, dokumentasipun sudah tersisihkan di memory hp. So, no picture untuk nasi pecel ini.

Berikutnya kami menuju rumah Kipas, istirahat sejenak untuk mandi lalu melanjutkan perjalanan. Meskipun sudah makan pecel, perut ini belum pol rasanya. Bakso Presiden  yang tersohor itu jadi sasaran. Sebenarnya bukan pengen makan bakso juga sih yang membuat kami ke sana, tapi sensasi makan bakso sembari disamber kereta api yang lewat di samping booth. Mungkin untuk warga Malang dan sekitarnya mereka hanya ingin makan bakso, sementara untuk turis lokal seperti saya dan Thiya, Bakso Presiden ini adalah atraksi kereta lewat yang menarik. Beneran mepet banget loh ini tempatnya.

Selesai makan di Bakso Presiden kami langsung meluncur ke daerah Batu, tujuannya Museum Angkut yang ditempuh kurang lebih 2 jam karena sempat terjebak macet. Salah pilih jalan nih, saya sebagai navigator merasa gagal hiks hiks. But hey, its a trip jadi nikmatin ajah. Semangat sempat kendor karena macet tadi, sudah macet pleus panas pulak. Untungnya kami satu mimpi, udah nyampe Malang, nanggung lah kalo nggak ke Batu.

Trip ke Batu ini terbilang menyenangkan (terlepas dari macet karena pembangunan jalan). Hamparan sawah luas nan hijau, jalanan mulus dan sepi menemani perjalanan kami, serasa di Ubud deh. Sampai di perbatasan Batu, track mulai menanjak ringan. Nah, kalo di sini berasa di Lembang, Bandung. Udaranya adeeeem, banyak pepohonan tinggi. Jalanannya mulai ramai lancar, kalo nggak hati-hati bisa aja celaka. Yes, kami bertemu dengan pengendara motor yang bertabrakan. Alhamdulillahnya nggak parah, cuma baret-baret sedikit dan motornyapun masih bisa digunakan. So, tetep hati-hati ya dalam berkendara meskipun suasana jalanan membuat hasrat sembalap kalian menggelora hehehe.

Sekitar pukul 3 sore kami tiba di Museum Angkut, tiket terusan seharga 90rb sudah dikantongi. Kami masuk berbarengan dengan group-group wisata lain, suasananya terbilang crowded di sana. Sempet agak malesin dan berasa monoton “gini doang untuk 90rb?”, melihat-lihat dan foto-foto moda transportasi saja tidak memuaskan buat saya. Baru sesaat menikmati, Thiya panik karena tidak menemukan kunci motornya. Motor sewaan soalnya. Setengah berlari kami kembali ke parkiran dan kunci motor yang dipikir masih menggantung di motor ternyata tidak ada. Damn! Tak kehilangan ide, Thiya berinisiatif menanyakan ke booth petugas parkir, ternyata mereka yang simpan. Fyuuuh!! Aman. Kamipun segera kembali masuk ke Museum.

Atraksi Museum ini ternyata bukan sekedar moda transportasi, buat saya highlight-nya justru miniatur kota-kota. Saya yang asalnya pusing dan lemah karena ehem…sedang di datangi tamu bulanan tetiba punya tenaga lebih untuk eksplor. But still, i wished i have all the energy i needed back then. Kasian si Thiya yang excited banget tp sayanya lemah-letih-lesu. Pardon ya teman…next trip dijadwalin supaya nggak pas dengan waktu saya lagi ada tamu hehe.

next destination is bromo

Posted from WordPress for Android

4 thoughts on “A 72 hour trip : Bandung – Malang – Bromo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s