Inez's Diary · travel

Bali Summer Trip #1

Setelah bertahun-tahun nggak nge-trip sendiri, akhirnya 30 Mei 2015 lalu kesampaian deh. Persiapannya udah dari Desember 2014, hunting tiket murah untuk long weekend. Awalnya memutuskan untuk ke Singapura di 13-17 Mei, tapi saya lupa alasannya apa akhirnya saya dan dua orang temen lain memutuskan untuk ke Bali di 30 Mei – 3 Juni 2015.

Decision have been made, ticket is already booked sebelum berita pesawat Airasia Surabaya-Singapura kecelakaan di Kalimantan. Sempet deg-degan sih, tapi ya sudahlah pasrah aja. Di awal Januari pencarian hotelpun dimulai, nyari tempat sekelas tune hotel rata-rata sudah pada booked. Lalu, dapet rekomendasi dari temen di Vilarisi daerah legian. Sayapun search di agoda, liat-liat foto-foto hotel dan kamarnya okelah. Kami pilih kamar Superior dengan queen size bed, bath-tub, kulkas, AC juga TV. At last, trip pun sudah separuh lengkap. Tiket pesawat dan hotel sudah di tangan di bulan Januari. Bulan-bulan berikutnya diisi oleh nabung dan nyicil akomodasi di sana hahaha. Fiuh. Kami sepakat untuk menentukan biaya akomodasi bersama sebesar 2 juta rupiah/orang, biar satu pintu kalo mau jajan, masuk wisata, sewa mobil, sewa perahu, bensin dst. Persiapan terakhir adalah cari tempat sewa mobil yang murah. Kebetulan dapet rekomendasi juga dari temen di balisewamobil.com, kami sewa estillo seharga 150rb/24 jam (lepas kunci). Berikut rincian ‘bekal kami’ untuk trip ini.

  1. Pesawat pp + airport tax+bagasi 20kg = +/- 1.5 jt (per orang)
  2. Hotel kamar superior 5 hari 4 malam = +/- 1 jt. (per orang 350rb)
  3. Bekal akomodasi = 6 jt (2 jt/orang)*rincian di bawah
    1. Biaya sewa mobil = 600rb (4 hari)

Jadwal flight saat booking adalah Bandung-Bali itu 15.30 sementara Bali-Bandung 18.30. oh ternyata pada perjalanannya jadwal kami di reschedule sampai 3x, temen saya sempet komplen juga ke kantor Airasia di Sarinah, memastikan flight kami tidak berubah lagi maklum lah namanya juga orang kerja, terbentuk cuti, harus ngirit-ngirit hahaha. Maka jadwal fixednya jadi Bandung-Bali jam 06.00 pagi (WIB) dan Bali-Bandungnya 09.10 (WITA). Reschedule ini membuat itinerary kami jadi rada berantakan sebenernya, nggak masalah kan tetep liburan judulnya.

Trip Bali ini dimulai lebih awal oleh temen-temen yang dari Jakarta, sebut saja nona lubis dan noni channy. Mereka udah nge-trip duluan dari Jakarta ke Bandung sementara saya yang orang Bandung tinggal meluncur ke meeting point di pool travel hihihi. Story short, jam 3 pagi udah bangun, mandi lalu menuju bandara jam 4 pagi dengan muka bantal semua.

Day 1 – Pantai…pantai dan pantai.

Sekitar jam 9.30 an nyampe di Ngurah Rai, disambut dengan hujan gerimis, mendung, kecewa. Setelah meet-up dengan Bli Putu lalu serah terima mobil kami meluncur ke Sanur. Saat itu yang dicari cuma satu hal MAKAN, laper cyin, jadi meski hujan ya ga masalah. Tujuan kami bukan lain dan tidak bukan adalah Mak Beng.

  • Mak Beng

Warung ini begitu kesohornya meski ujan tetep aja rame dan kami nyaris waiting list. Turis lokal dan interlokal berjejal di sini. Tempatnya sempit dengan bau khas ikan yang memenuhi warung. I’m not that fond of fish, jarang banget makan ikan dan hanya mau makan ikan kalo nggak ada durinya dan sama sekali nggak bau amis. Pas baru dateng ke warung ini sempet ragu, duh bisa nggak nih saya menikmati makanannya, mana paketnya termasuk sop ikan yang pasti amis. TADAAAA… yang pertama diicip adalah ikan gorengnya, very nice, dagingnya lembut dan nggak berasa amis ikan SAMA SEKALI, di cocol ke sambalnya juga endes beudh. Berikutnya nyicip sop ikannya and amazingly juga sama-sama nggak bau amis ikan sama sekali. Oke, I like this dish terlebih bisa dibilang durinya ampir nggak ada karena keliatan dan gede-gede banget. Mbok pelayannya bilang, “Ini spesial ya, ikannya besar-besar.” Saya rasa ini istimewa, makanan juara yang membuat saya si anti ikan bisa melahap nikmat sampai habis. Paket sop ikan dan ikan goreng plus nasi ini dibanderol Rp, 37.000/porsi. Mantep.

Karena itinerary berantakan dan kami belom sempet miting trip route berikutnya untuk beberapa saat sempet kebingungan. Beruntung sepupu Nona Lubis tinggal di Bali dan beliau bersedia mengantar kami tur pantai hari itu. Pantai yang kami kunjungi antara lain Pandawa, Melasti dan Padang-padang.

  • Pantai Pandawa

Perjalanan dari Mak Beng ke Pandawa kurang dari satu jam via toll. Kurang lebih 1KM dari pantainya kami disuguhi pemandangan bukit-bukit karang yang dipapas sedemikian rupa agar dapat dibangun jalan yang nyaman ke arah pantai. Its beautiful. Sebelum sampai pantai, terdapat sebuah cliff yang jadi photo spot para pelancong. Di depannya terhampar laut sementara di belakangnya terdapat tulisan Pantai Pandawa tertanam di bukit karang. Pada bukit itu, disepanjang jalan menuju bibir pantai terdapat gua-gua kecil yang di dalamnya berisikan patung Pandawa. Pada saat ke sana patung yang ada baru beberapa, yakni patung Dewi Kunti, Dharmawangsa, Arjuna, Nakula, Sahadewa lupa deh satu lagi apa hehe. Setelah berfoto di depan patung-patung, kami langsung menuju pantai.

Pantainya cenderung sepi, pantainya putih bersih dan airnya jernih biru-kehijauan. We were blessed, cuaca tidak terlalu panas dan pantai tertutup awan, nggak kena matahari langsung tapi langitnya biru cerah. Angin sepoi-sepoi, suara deburan ombak ahh…damai.

As we walked through the beach line, taking we-fie all along ada seorang turis interlokal yang juga sibuk selfie sendiri di depan kami. At some point, dia menghampiri. Kepada Noni Channy dia berkata, “Excuse me, can you take a picture of me while i’m looking at the ocean. You know, from my back.” Setelah di foto, dia berkata, “Can you take once more.” Setelah itu diapun berbasa basi dan kamipun tahu kalau dia itu dari Belanda. Its kind of funny because we tease him a lot on his back. “Bang, foto bareng dong bang. Bang, dari pada foto sendiri mending sini bareng adek.” You know, and boom he asked to have himself getting picture and in awe kami lupa dan juga tetiba ga punya nyali untuk minta foto bareng hahaha.

Dari Pantai Pandawa kami bermaksud ke Padang-padang sembari mencari makan siang. Guide kami cuma satu waze atau google maps. Ternyata berdasarkan panduan itu, kami harusnya putar balik. Ya, kami baru membuka aplikasi waze setelah ngeh nyasar, begitu tahu nyasar, sepupu Nona Lubis ini menyarankan untuk lanjut saja, tak perlu putar balik. Well, jalan pun mulai agak aneh, sepi dan sempit. And then BOOM!! Another beach, liat di maps kami berada di daerah Ungasan. Dengan sok tahu kami menyebutnya pantai ungasan. Kamipun memutuskan untuk turun dan menikmati pantai. Di sana terlihat beberapa parkir dan excavator sedang memapas tebing, jalannya pun berupa tanah tanpa aspal. Kami berjalan menuju sebuah kios kecil (satu-satunya) bertanya tentang pantai ini. Disitulah kami mendapat informasi kalau hidden paradise ini bernama Melasti di desa Ungasan.

  • Pantai Melasti

Di ujung kanan, berlindung dibawah bayangan sebuah bukit terdapat sekeluarga turis asing sedang bermain di pantai. Ada yang bermain air, bermain pasir sementara yang dewasa berjemur. So private. Di atas bukit memang terdapat sebuah resort, satu-satunya sepanjang jalan kami nyasar tadi. Jadi memang yang main di pantai ini biasanya hanya tamu resort tersebut. But seriously, this beach is awesome. Air lautnya berwarna biru kehijauan dan crystal clear bahkan dari ketinggian bukitpun kami bisa melihat dasarnya. Pantai yang cocok banget buat menikmati me-time, cukup menggelar kain pantai, pesen rujak di si mbok kios tadi, rebahan atau baca buku…udahlah…couldn’t care less about the rest of the world for a moment.

Berhubung judulnya nyasar dan laper, kami nggak berlama-lama di Pantai Melasti. After bracing myself disertai deru adrenalin karena mobil sempet mati pas tanjakan sangat curam, the worst is over. Kami kembali ke track dan bertemu dengan kendaraan lain. Fiuh…

Tujuan berikutnya adalah MAKAN karena lapar melanda. Sembari menuju Padang-padang kami melewati sebuah warung yang menghidangkan makanan halal, sesuatu yang langka di Bali, namanya Warung Muslim Hafidzah, di Jl. Uluwatu Depan Pecatu Graha. Saya makan ayam bakar sama pecel, Nona Lubis pesan ayam bakar sama sambal goreng kentang, Noni Channy ayam bakar, kering tempe dan gulai nangka. Untuk harga saya ga tau nih habis berapa soalnya ditraktir sepupu Nona Lubis hehe..rejeki anak soleh. Setelah itu meluncur ke Pantai Padang-padang.

  • Pantai Padang-Padang

Di pantai ini sudah menjelang sore, sekitar jam 4. Agak bingung karena dari parkiran, pantainya terlihat jauh di bawah dan ternyata benar adanya kami harus menuruni tebing. Nggak terlalu terjal sih, hanya agak spooky karena harus “ngolong” diantara dua patahan cliff. Setelah beberapa menit dan antri menuruni tangga yang sempit akhirnya keliatan juga pantainya.

Well, agak berbeda dari ekspektasi saya nih. Di sini terbilang crowded, pantainya agak sempit dan bibir pantai berantakan antara yang jualan, turis londo yang berjemur, warga lokal yang nyari ikan dan turis-turis lain yang berkeliaran di bibir pantai. Tapi di tengah laut beuuhh, Nampak seperti surganya para surfer. Gelombang ombaknya seolah berlomba-lomba menuju pantai, dan memang terlihat beberapa turis asing lagi surfing.

Ada kejadian unik nih, nggak tau deh di pantai lain gimana, ada kejadian kayak gini apa nggak. Jadi, kami lagi ngadem memandang laut dibawah naungan semacam gua. Lalu seorang bapak tergopoh-gopoh memeluk jaring ikan. Ia membuka jaringnya di atas karang dan beberapa orang membantunya memasukkan ikan-ikan kecil hasil tangkapan ke dalam wadah. What a sight. Sontak ini mencuri perhatian para pelancong lain, mereka mulai mendekat dan mengabadikan momen ini. Sekali lagi saya amazed, semacam diingatkan masih ada loh orang yang mata pencahariannya atau bahkan mungkin berburu makanan dengan cara ini di era canggih sekarang.

Saya dan teman-temanpun turun ke pantai, masih terpukau dengan si bapak tadi. Lalu kami sadar ternyata ikan-ikan tadi memang berenang di sekitar tepian pantai, bergerak meliuk-liuk, bergerombol mengikuti arus. Dan jauh agak ke tengah kami melihat ikan-ikan ini melompat-lompat menghasilkan kilauan-kilauan dari sisik mereka yang keperakan memantulkan cahaya. Beautiful, cantik banget.

Kami tak berlama-lama di Padang-Padang, masih ada trip berikutnya. Dreamland dan LaPlancha. Ternyata Dreamland nggak accessible saat itu, tapi di sana kami sempat istirahat untuk ibadah lebih dulu. Luar biasa, masjidnya megah dan penjaganya juga sangat ramah. After a while, saya merasa benar-benar dalam damai. Menghadap yang Maha Esa ditemani angina sepoi-sepoi dan lembayung senja. The hell with sundown on the beach, this is already perfect. Waktu menunjukkan hampir pukul 17.30, kami menikmati sundown di dalam mobil, but its all right, kami tetap bisa menikmatinya. Trip ke LaPlancha pun di cancel dan kami memilih early shop di beberapa toko yang sedang sale besar-besaran hari itu hehehe.

Nggak terasa, langit sudah gelap kami segera mencari hotel untuk cek in. Kali ini judulnya muterin Legian, Nona Lubis sempat bersitegang dengan sepupunya karena kami tak juga sampai ke hotel, cabal ya Nona, pasti nyampe kok. Setelah cek in, bersih-bersih badan, mandi, kamipun bergerak mencari makan malam. Mata udah sepet bener deh, tapi perut meronta dan matapun mengalah. Kami makan di Belissimo, café kecil di bilangan Hayam Wuruk. Saat itu udah lewat jam 11 malem, beberapa menu yang kami pesan sudah habis. Saya sama Channy pesan pasta, Lubis dan sepupunya pesan cordon bleu. Range harganya dari 25-40rb, untuk minuman dari 5-30rb. Pizzanya juga sekitar 30-50rb ukuran medium. Untuk pastanya rasanya pas, bumbunya terasa dan toppingnya memuaskan, porsinya juga bikin kenyang, yang pasti nggak mblenger atau bikin eneg. Cordon bleu-nya nih yang agak-agak kurang memuaskan, disajikan dengan ubi goreng (dikira dapetnya French fries, kebiasa begitu, ternyata di menu memang dapetnya ubi. Efek ngantuk juga sih jadi kurang teliti hahaha). Cordon bleu-nya minimalis, porsinya kecil dan lebih berasa makan nugget isi keju gitu. Untuk pizzanya, topingnya juga minimalis tapi enak, kulitnya tipis and should be crunchy tapi karena kami makannya untuk sarapan jadi nggak crunchy lagi. Minumannya nggak ada yang istimewa, I feel my chocolate seperti susu coklat instan. Untungnya saat itu nggak mikir makan enak sih, could care much about the taste yang penting perut terisi hhahaha. Rules dalam berjalan-jalan adalah make sure our belly is never empty. Buang jauh-jauh diet ketat, yang penting stamina terjaga, jangan lupa doping vitamin c kalo perlu.

Perut kenyang, saatnya pulang. Sepupu Nona Lubis sudah diantar pulang, giliran kami mengakrabkan diri dengan waze dan google maps. Kantuk pun hilang karena takut nyasar, dan…yep kejadian deh. Me as navigator telah membuat kami kembali nyasar. Sori ya Nona Lubis, udah kasian bener sama sampeyan yang nyetir sambil meler-meler, bersin-batuk dan pusing pasti. But she’s not complaining, thank you very very much. Padahal seat mobilnya agak-agak peer, nggak bisa ngunci kalo jok-nya di kedepanin hehee. Another thank you pada Channy yang udah bersedia jadi ganjelan jok driver kami. Perjalanan hari itu di tutup dengan ngitung pengeluaran dan transfer hasil dokumentasi. Pukul 01.30 kami baru benar-benar bisa istirahat total, tidur.

this is our day 1 video compile. Part malam memang nggak terdokumentasikan. after shopping craze, we’re just too tired to even record hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s