Uncategorized

Psychology and Super Hero

Ilmu psikologi adalah kekuatan super, jadi mereka yang punya ilmu psikologi adalah superhero. Well, paling tidak saya berpikir seperti itu. Kenapa?

Saya selalu ingat dengan pepatah psikologi “Psikologi itu ilmu untuk anda, bukan untuk saya.” Meaning : Bahwa ilmu psikologi itu diperuntukkan bagi klien bukan psikolognya. Dengan sebelumnya satu maka mereka yang punya ilmu psikologi ini munafik, meaning : apa yang mereka sarankan pada klien, bagaimanapun ironisnya, tidak selalu berlaku bagi mereka meskipun mereka ada di posisi yang sama dengan klien. Contoh : Kasusnya patah hati. Si A yang punya ilmu psikologi ini gagal move on sedang menasihati temannya, si B yang baru saja ditinggal kekasih. Si A menasihati bla-bla-bla kemudian si B yang mengetahui masalah si A (gagal move on) akan berkata, “Dih, kamu aja gagal move on gitu.” percayalah, Si A kurang lebih akan memberi banyak reasoning sampai si B merasa bahwa kasus mereka berbeda dan akhirnya menuruti si A. My point adalah, Psikologi adalah ilmu yang pelik dalam arti dangerous and helpful at the same time. Saya sih oleh almamater saya di brainwash bahwa kita harus responsible dengan ilmu psikologi yang dimiliki dan digunakan untuk kebaikan, for the good of others.

Dalam perjalanan mencari jodoh dan mencari pekerjaan impian saya ketemu banyak orang. The second they knew i have a degree in psychology they ALWAYS said, “Baca aku dong.” kemudian menanyakan tentang tips dan trik sukses psikotes lalu mereka akan bilang, “enak ya punya ilmu psikologi, pasti lolos psikotes, udah tau triknya gitu.” Saking seringnya nemu yang begitu, saya seolah pengen melambaikan tangan ke kamera dan teriak “udahan bos, ga kuaaat.” atau doing table flip.

This is when the super power terms comes.

Psikologi memang ilmu untuk anda, karena bagi mereka yang punya ilmunya, biasanya kalau menerapkan atau menganalisa hidupnya secara full dengan psikologi, it will be an endless debate. Doktrin filsafat yang “harus mempertanyakan segala hal” demi mempertajam kepekaan akan jadi bumerang tersendiri. So, instead of doing things, WE tend to over-think everything and end-up being tired and doing nothing at all. Then when the problem resurface, the same cycle happens. At some point, WE just let it go and stop using or analyzing everything with psychology karena “pake” ilmu psikologi itu melelahkan hati dan pikiran. That is why psychology become a super-power, we’ll use it when we need it. Sepertihalnya para super-hero yang menggunakan kekuatan supernya pada waktu tertentu saja (ketika ada yang butuh pertolongan, misalnya), nggak lenggak-lenggok di dunia ini petantang-petenteng make super-powernya.

Maka dari itu, ketika ditanya tentang psikotes dan bagaimana kita “curang” karena punya super-power, know this… Karena kami tahu tujuan psikotest apa, maka TIDAK, we’ll try not to ruining the test by using our knowledge to have a certain score to be accepted. Karena kalo kami berusaha memanipulasi “supaya bisa diterima” otak kami akan bekerja 2 kali, memikirkan pengerjaan tes-nya dan cara/triknya. I guess some people did cheat, but i don’t. i just don’t want to over-think karena ujungnya… kalo manipulasi, psikotest ini nggak akan nunjukin diri saya yang sebenernya tp diri fake saya, itu satu, kedua, kasian otak saya harus kerja keras kek gitu, mending fokus di satu tugas aja hahaha. Untuk beberapa orang, bisa jadi psikotes tertentu jadi imun karena sudah hapal luar dalam jawabannya, nah… ini biasanya IQ test. No worries, IQ test sendiri ada banyak dan ada beberapa test lain yang bukan termasuk IQ test tapi bisa menilai IQ. Jadi, selalu ada celah untuk “menilai”  seseorang dengan cara yang valid dan itulah kenapa psikotest biasanya adalah rangkaian test bukan cuma satu tes aja. Jadi jangan terintimidasi atau menganggap kami selalu lolos atau cheat, it doesn’t work like that.

Because we learn so much about human and their personality and how fragile we were, we become to understand our role in the society. Kami sadar akan tugas dan tanggung jawab ilmu aaand we also have our own code of ethics. Ethics we must obey, supaya kami tidak menyalahgunakan ilmuWith great power, come great responsibility… gitu kata Uncle Ben di Spider-Man.

So, untuk temen-temen psikologi stay humble, don’t mumble, we need to be responsible. Psikologi adalah super-power kita, manfaatkan baik-baik, use it for a good cause, doing good deed.

Remember, kami mungkin punya super-power dan sama halnya dengan super-hero yang memiliki super-power, kami tetap punya kelemahan, because we’re mere human being just like all of you not some imaginary human with some super duper power. Our power is learned, so you can have it too. Its not an exclusive things like being born as Kryptonian or Odin’s sons. We’re not God who know every answer, and we’re not a psychic that we can know everything about you just by looking at your face. We need data, facts and time to conclude who the hell you are. Ilmu kami abstrak, sulit dijelaskan dengan angka bahkan kata-kata (kadang), how can we be sure or how valid it is? Semua tergantung pengalaman, kepekaan dan pehamaman akan ilmunya. Karena buat saya, statistik angka hanya menunjukkan frekuensi atau kecenderungan. Okelah, nanti lagi kita bicara tentang angka dan psikologi.

Good night universe….

One thought on “Psychology and Super Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s