Balada Angkoters

Balada User Angkutan Kota

Angkutan Kota atau disingkat dengan Angkot adalah alat transportasi termasyur di Bandung. Murah meriah, sedikit gerah, kadang juga susah gerak bahkan tak jarang harus kejar-kejaran tapi itulah yang jadi cerita. Saya adalah user angkot sejati, kemana-mana pakai angkot dan menginjak usia 13 tahun fix sebagai regular user karena lokasi sekolah cukup jauh. Ketika teman-teman meningkat kelasnya dibelikan motor, mobil atau simply punya pacar yang punya kendaraan sampai sekarang saya masih setia dengan angkot dan jomblo (at the moment).

Menggunakan angkot itu penuh tantangan dan pengalaman. Tantangan menghadapi pencopet jahil, pengamen/pengemis yang suka maksa. Angkot selain transportasi juga sebagai sarana olahraga, perlu sedikit lari-lari untuk mengejar angkot yang levelnya almost extinct atau rare, bisa juga latian tahan napas kalau-kalau ada penumpang bau ketek, melewati area pembuangan sampah/pasar. Angkot juga teruntuk mereka yang bermental baja, harus bisa sabar kalau pak sopir ngetem (nunggu penumpang). Dan yang pasti, berapapun ukuran celanamu jok tempat duduk haruslah muat 7 orang di kursi panjang, dan 5 di kursi pendek (aturan ini berbeda tiap kota, tapi di Bandung umumnya).

Pengalaman yang takkan saya lupakan selama belasan tahun menggunakan angkot adalah ketika saya menemukan sebuah ponsel anak SMA yang terjatuh. Siang itu seorang gadis SMA dengan dandanan emo lengkap dengan cat kuku hitam duduk di hadapan saya. Tampilannya yang eye catching membuat mata ini gatal untuk mengobservasi. Setelah ia turun di sekolahnya, isi penumpang berangsur berkurang dan sayapun pindah ke tempat duduk gadis itu karena tidak terkena sinar matahari.

Mata ini mulai melihat ke segala arah karena dilanda bosan, alangkah terkejutnya saat mata saya menemukan ponsel hitam tergeletak dibawah jok. Sayapun dihadapkan pada dilemma, ambil atau tidak. Keraguan saya terbaca oleh bocah yang duduk sejajar dengan saya dan sayapun makin gak karuan. Kalau nggak saya ambil, anak itu udah liat saya mantengin ponsel itu. Ya sudah ambil saja. Kembali saya dikagetkan oleh ponsel tersebut. Ponsel dengan merk tak jelas dan keypad yang tertutup oleh sticker seluruhnya. Saya benar-benar buta dan tak tahu cara unlock ponsel ini. Ketika sedang sok-sok an jadi pemilik ponsel (= pencet sembarangan untuk unlock) ternyata ponselnya berbunyi. Mampus! teriak dalam hati. Saya memutuskan untuk menjawab lagi-lagi dengan menebak dimana keypad untuk menjawab.

Disitu saya menjelaskan kalau saya menemukan ponsel dan saya dalam posisi tidak bisa mengembalikan saat itu juga karena saya ada praktikum yang nggak bisa ditinggal. Saya bilang, saya baru bisa kembalikan sekitar jam 5 sore setelah praktikum saya selesai. Pet, tiba-tiba saja mati..mungkin kehabisan pulsa. lima menit kemudian saya berhasil menemukan letak call register di ponsel itu, sayapun mengirimkan sms dari ponsel itu ke nomer yang tadi menelepon. memberitahukan identitas saya dan janjian untuk bertemu. 3x berbalas sms, ternyata pulsa di ponsel itu habis. Cih…tak lama 3 sms masuk, saya buka smsnya bukan kepo tapi lebih karena siapa tahu itu sms dari si pemilik ponsel. Sungguh sakit hati ketika sms yang masuk adalah cacian dan makian yang tertuju pada saya. Menyebut saya pencopet, pencuri dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh. Duh… rasanya pengen dilempar aja deh tu ponsel keluar jendela. Mending kalo ponsel bagus bisa saya jual, ini ponsel sampah juga dengan layar monokrom di era ponsel paling keren adalah Nokia 9500.

Sore itu saya bertemu dengan gadis emo tersebut yang datang bersama (mungkin) pacarnya. Saya minta maaf kalau ada beberapa sms masuk yang saya baca karena saya pikir itu dari dia untuk saya. Setelahnya, ia berterima kasih dan kamipun berpisah. Saya ngerasa lega dan seneng bisa nolong, tapi melihat reaksi sms teman-temannya yang mencaci maki ada tersirat kesal dan justru malah terpikir untuk berbuat jahat. yahhh…it happens

 

Pesan moral : gelagat pencopet amatir dan orang dilematis mau nolong bisa jadi beda tipis. tetap waspada tapi jangan gegabah. niat baik bisa disalah artikan dan justru bisa berubah jadi niat buruk dikarenakan judgement dan social preception yang cuma melihat satu sisi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s