Inez's Diary

today is definitely not ordinary

Sepulang bimbingan tadi, saia berpikir untuk menulis diblog dan mengatakan It’s just another ordinary day in my life, but apparently something happen. Kejadian yg bukan menimpa saia atau keluarga hanya entah kenapa menyentuh hati dan membuat semangat membara hari ini mereda. Its like a second you’re like on the top of the world, the next you feel humble and realize you’re just a human being.

Hari ini dimulai biasa saja, tidur malam yg cukup, bangun tidur online maen mafia, café world sama vampire wars. Tak lupa mendownload gossip girl dan wolfman. Agak hectic karena pagi2 disuruh masak bikin sarapan satu rumah, padahal saia ada janji bimbingan jam 10. Walhasil, sarapan itu tak dapat saia nikmati karena kalo saia sarapan, saia akan terlambat bimbingan. Maka perut saia diisi dengan sepotong perkedel jagung dan secangkir kopi saja.

Bimbingan singkat dan lancar, otak saia selama perjalanan pulang penuh dengan ide2 revisi. Sampai dirasa ternyata udara bandung kota kembang berasa neraka bocor disiang bolong. Pulang dengan perasaan senang karena membawa cendol untuk mengobati rasa gerah, dan pastinya senang karena saia akhirnya bisa MAKAN!!! Efek lapar berat dan boke membuat saja cukup menempuh perjalanan 3 jam saja untuk pergi dari rumah – bimbingan di kampus – dan sampe rumah lagi.

Sampe rumah lapar menggila, kostum bimbingan masih lengkap, barang yang lepas dari badan cuma ransel dan sepatu saja. Lahap dalam sepi rumah (everybody mind their own business), ibuku menghampiri, “oh lagi makan toh, beresin aja dulu si jagoan bangun, ibu mau shalat zuhur” si jagoan adalah ponakan saia yg paling muda, baru 3 bulan umurnya. Saia mengangguk dan ibu pergi kembali ke kamarnya tempat si jagoan tidur. ga lama si ibu rempong keluar kamar buru2 (kedengeran suaranya), terus bilang, “ada maling” sama saia. Saia kembali ngangguk dan terus makan, “oohh yg suara2 tadi tuh teriak maling, kirain orang berantem” (rumah di gang berdampak pertengkaran antar tentangga adalah hal lumrah). Sampai detik dimana kakak ipar saia keluar kamar dengan  heboh dan bilang, “ada maling” saia tidak menyadari betapa kata2 maling itu penting dan situasi kampong sebenarnya sedang genting. Saia menghentingkan acara makan dan mencoba menganalisis serta mengingat2 apa yg dikatakan kakak ipar dan ibu saia. M.A.L.I.N.G . and then kakak saia (suaminya ipar) juga keluar kamar mengikuti ibu dan ipar yang berlari ke depan rumah menuju gang. Entah kenapa, saia otomatis mengikuti mereka enggak panik, nggak takut tapi bingung dan ingin mencari tahu…what the hell sih.. kok pada rempong kan cuma maling…

Menuju teras rumah, saia masih bisa mendengar teriakan maling. Suara yg parau dengan nada sangat desperate disertai senggukan kesal, sedih, dan marah. Orang2 udah pada ngumpul, ada pak rt dan tetangga dengan radius 30 meter dari rumah itu perlahan mendekat. Para pria dan pekerja2 bangunan juga berada di depan rumah itu. (ada kosan baru gitu…underconstruction sebelah rumah saia)

Yes, that house. Rumah yang sudah ada dan sudah terlihat tua sejak saia tinggal di kampung maling ini. (FYI : saia sudah tinggal di kampung ini selama umm…18 tahun). Rumah yang belum ada seminggu terpampang tulisan RUMAH INI DIJUAL. I know who lives there, not personally but somehow I feel attached. Everybody called the lady of the house is MAMIH, or Bu Daud (anaknya namanya Daud). An old lady aged around 80. She barely could see things, she find it hard to even walk out side the house. She’s a widow, her sons live outside Indonesia except Daud who lives not far, about 500-700 meters away.

Waktu jaman sd dulu saia selalu melihat bu daud lagi “moyan” di depan rumahnya tiap saia pergi sekolah atau yaa… sekitar jam 8-9 pagi. I guess that time has passed so many years ago. The last 10 years, she barely get out of her house. Sekali-kali saia liat dia main ke rumah kakaknya which is seberangan dengan rumah saia. Setiap hari dia di temenin sama pembokat, orang kepercayaan anaknya atau tetangga yg concern dengannya and of course paid. Hampir 2 tahun ibu saia mengajar ngaji di rumah Bu Daud. Well, bukan ngajar sih wong si ibu penglihatannya sudah terbatas. Ibuku cuma tilawah dan Bu Daud mendengarkan, kadang sambil tiduran. She trust my mom, they shared stories, so I almost burst into tears when writing this. She just loved denger orang ngaji, why even someone dared to rob her.

Kembali ke teras rumah, I’m just stood, stunned and trying to gather information. I saw the maid face pale white, my mom is in her house, people start to talk and making assumption. Pak RT unjuk bicara, “ini bukan pertama atau kedua kali, bu daud udah sering kecurian. Ini pasti kerjaan orang deket.” Apparently pembaca sekalian, bu daud hari ini baru dapat kiriman uang bulanan dari adiknya. Adiknya baruuuuu aja pergi dan dianter ke jalan besar sama si pembokat. That’s when the robbing happens. I heard the maid said, “aku tuh bilang sama ibu, supaya uangnya aku dulu yg pegang. Ibunya gak mau, dia mau pegang sendiri.” Later I know just last May the same rob happens, the maid out ngater adiknya bu daud, uang pun raib. Bedanya… menurut ibuku yg mendengar penuturan bu daud. Siang ini setelah kepulangan adiknya, bu daud memutuskan untuk duduk di sofa dulu menunggu azan zuhur sebelum pergi menyimpan uangnya (yah, ngertilah, jalan udah repot banget buat dia). She duduk lalu menutup tas berisi uang itu dengan bantal sofa. In matter of second, dia ngerasa (coz she can’t see) bantal di pangkuannya ditarik terus tasnya di ambil paksa (kek penjambretan gitu). That is when she start screaming, “MALIIIIIIINNGGGG….BANGGSAAAAAATTTT” the maid just got into the house, she saw a man climbing to a wall in the back yard (trust me he’s not spiderman hehehe).

I heard more people talked, they said the robber is someone who knows her. The suspect shrink into 2 person, a person which I personally not shocked to know, but shocked that they could done it to her. The 2 persons are brothers, and a family to her. They are the grandchildren of Bu daud sister who lives across the wall. Yes, their house is side by side. Kakak beradik itu terkenal tukang mabuk, pelaku KDRT, pengangguran dan temperamental. Orang tua mereka (I think) meninggal dari mereka kecil, makanya mereka tinggal dengan neneknya. Years living together, mereka tega mencuri…merampas dari adik nenek mereka sendiri, yang jompo, hampir buta, yang jalan dari kamar ke kamar dirumahnya aja udah jadi perjuangan buat dia. I feel terrible, I cry for her not of her loss of money but for having those heartless brothers as family who done that to her. Bu daud ga mau tinggal sama anak2nya, ga mau ngerepotin, just a week after she decided she will live with Daud (that’s why she sold the house) this horrible things happen.

So…today is far from ordinary. Banyak hikmah yang bisa diambil dari kejadian pencurian itu. Bukan hanya masalah keamanan rumah, tapi juga dengan relasi keluarga. Mudah2an hal di atas ga perlu terulang lagi, baik sama bu daud atau kita semua. Amin..

Good day everyone,

Be careful and take care of your family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s